ASIC 2026 di Nanjing Perkuat Kolaborasi Indonesia–China, Libatkan 23 Negara dan 88 Institusi Global
CONFERENCE
4/24/20263 min read


Nanjing, China — Asian Scholars International Conference (ASIC) 2026 sukses diselenggarakan di Nanjing, China sebagai forum internasional strategis yang mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara dalam memperkuat kolaborasi riset, inovasi, dan diplomasi akademik.
Konferensi ini dihadiri oleh 130 peserta secara langsung (offline) serta ratusan peserta lainnya secara daring, dengan total keterlibatan dari 23 negara dan 88 institusi pendidikan serta perusahaan. Secara keseluruhan, lebih dari 250 peserta berpartisipasi dalam kegiatan ini, mencerminkan tingginya antusiasme terhadap kolaborasi global, khususnya antara Indonesia dan China.
Momentum Strategis Kolaborasi Global
Ketua Panitia ASIC 2026, Ahmad Fauzan Hidayatullah, menegaskan bahwa konferensi ini menjadi momentum penting dalam membangun masa depan berbasis kolaborasi lintas negara.
“Hari ini bukan sekadar pembukaan konferensi, tetapi momen di mana ide bertemu kolaborasi, dan kita mulai membentuk masa depan bersama. ASIC 2026 bukan hanya forum, melainkan platform untuk menciptakan dampak nyata,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa dari 65 abstrak penelitian yang diterima, sebanyak 45 karya terpilih dipresentasikan, mencerminkan kontribusi nyata akademisi dalam menjawab berbagai tantangan global.
Peran Pemerintah dan Diplomasi Akademik
Dukungan pemerintah Indonesia dalam forum ini ditunjukkan melalui kehadiran perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang diwakili oleh Boediastoeti Ontowirjo, Ph.D., Deputi Kebijakan Riset dan Inovasi.
Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam memperkuat daya saing riset Indonesia.
“Kolaborasi riset lintas negara menjadi kunci dalam mempercepat pencapaian kedaulatan pangan, energi, dan kesehatan nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem inovasi global,” ungkapnya.
Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk China, Prof. Djauhari Oratmangun, menegaskan bahwa hubungan pendidikan menjadi fondasi penting dalam hubungan bilateral kedua negara.
“Diplomasi akademik dan hubungan antar masyarakat telah menjadi pilar utama kerja sama Indonesia–China. Saat ini terdapat lebih dari 700 kerja sama antar universitas, serta sekitar 20.000 mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di China,” ujarnya.
Sorotan Inovasi: AI, Kesehatan, dan Pertanian Digital
ASIC 2026 menghadirkan berbagai topik strategis yang mencerminkan arah perkembangan global.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu fokus utama, khususnya bagaimana teknologi ini telah diterapkan di berbagai sektor seperti manufaktur, kesehatan, pendidikan, hingga smart city di China. Para pembicara menekankan pentingnya pengembangan AI yang bertanggung jawab dan inklusif.
Di sektor pertanian, Indonesia menampilkan inovasi melalui Taman Sains Herbal dan Hortikultura (TSDH2) di kawasan Danau Toba sebagai model pengembangan pertanian berbasis teknologi digital dan AI. Inisiatif ini mencakup pengembangan benih unggul, teknologi pascapanen, serta penguatan ekosistem riset berbasis biodiversitas.
Selain itu, inovasi teknologi nanobubble dalam pengolahan air dan limbah industri turut menjadi sorotan, dengan potensi besar dalam mendukung keberlanjutan lingkungan dan efisiensi industri.
Transformasi Sistem Kesehatan Global
Dalam bidang kesehatan, konferensi ini menyoroti peran teknologi, khususnya AI, dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
Salah satu studi menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dapat meningkatkan akurasi diagnosis secara signifikan, termasuk peningkatan performa prediksi hingga dua digit pada kasus tertentu.
Dr. Anthony Sunjaya, akademisi dari UNSW Sydney, menekankan pentingnya kerja sama global dalam menghadapi tantangan kesehatan.
“Kesehatan global tidak hanya ditentukan oleh sistem layanan kesehatan, tetapi juga oleh faktor lingkungan, sosial, dan kolaborasi internasional. Inovasi, termasuk AI, harus dikembangkan secara kolaboratif agar berdampak luas,” jelasnya.
Ekonomi Hijau dan Biru: Peluang dan Tantangan
Konferensi ini juga mengangkat isu strategis terkait ekonomi hijau dan biru di Indonesia.
Potensi ekonomi dari ekosistem mangrove, misalnya, diperkirakan mampu menghasilkan hingga USD 1,56 miliar per tahun melalui kredit karbon, namun masih menghadapi tantangan dalam aspek tata kelola dan implementasi.
Selain itu, riset mengenai daur ulang baterai kendaraan listrik antara Indonesia dan China menunjukkan potensi manfaat ekonomi sekaligus kontribusi terhadap pengurangan emisi karbon, sebagai bagian dari transisi menuju energi berkelanjutan.
Forum Multidisiplin untuk Kolaborasi Nyata
Selama dua hari pelaksanaan, ASIC 2026 menghadirkan berbagai agenda ilmiah, mulai dari opening ceremony, keynote speeches, plenary sessions, hingga parallel sessions yang mencakup berbagai bidang ilmu dan sektor industri.
Forum ini menjadi ruang sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah dalam mendorong implementasi riset ke dalam solusi nyata, termasuk dalam menghadapi tantangan regulasi, kesiapan teknologi, serta kebutuhan kolaborasi lintas sektor.
Penutupan: Penguatan Komitmen Kolaborasi Pendidikan Global
ASIC 2026 secara resmi ditutup melalui sambutan penutup dari:
Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Shanghai
Dalam sambutannya, kedua perwakilan tersebut menegaskan pentingnya keberlanjutan kolaborasi pendidikan dan riset antara Indonesia dan mitra global, khususnya China.
Mereka juga menyampaikan apresiasi atas kontribusi seluruh peserta dan menekankan bahwa jejaring yang terbentuk dalam konferensi ini diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama konkret di masa depan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pemberian penghargaan kepada peserta terbaik dalam kategori best paper dan best presenter, serta penutupan simbolis yang dilanjutkan dengan sesi networking antar peserta.
Membangun Masa Depan Melalui Kolaborasi
ASIC 2026 menegaskan bahwa tantangan global—mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga transformasi digital—membutuhkan solusi kolaboratif lintas negara.
Melalui forum ini, Indonesia bersama mitra global menunjukkan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam menciptakan masa depan yang berkelanjutan, inovatif, dan inklusif.
